Oleh: hardybreck | 13 Januari 2011

Catatan Kecil dari Cangkringan

Pukul 05.20 pagi alunan lagu To be with you-nya mr. Big terdengar dari alarm di telepon genggam saya. Badan yang masih malas bangun mendelegasikan tangan kanan untuk mematikan alarm yang kian lama kian kencang teriakannya. Pagi ini saya berencana ke lokasi erupsi Merapi di wilayah Cangkringan. Setelah melawan rasa malas yang menjerat badan saya membuka korden dan melihat di utara sana puncak Merapi tertutup masih awan. Sebenarnya keadaan seperti itu menurunkan mood saya untuk berangkat kesana, tetapi sehari sebelumnya cuaca hampir sama dan beranjak siang malah cerah. Sedikit berjudi akhirnya saya mempersiapkan diri untuk berangkat. Setelah sedikit membersihkan diri saya membuat kopi susu panas untuk mengisi perut dipagi yang cukup dingin ini. Sebatang wafer coklat jadi teman menyesap kopi susu yang nikmat. Setelah mempersiapkan perlengkapan tempur, motor kesayangan dipanaskan beberapa saat sebelum diajak melintas lagi di jalan yang pertengahan tahun kemarin pernah dijelajahi. Mesin berangsur panas, dan inilah kami pasangan petualang yang haus jarak mulai berjalan pelan menuju kaki Merapi.

 

Lalu lintas belum begitu padat jadi perjalanan ini bisa dilakukan dengan santai. Polisi lalulintas tampak berjaga di beberapa lokasi untuk mengatur pengguna jalan yang mulai berangkat menuju rutinitasnya. Setelah setengah jam perjalanan kami memasuki daerah Pakem yang udaranya mulai dingin. Matahari belum menampakkan sinarnya sehingga hawa dingin bebas menjamah pengguna jalan yang mengendarai motor. Setelah berjalan kira-kira 15 menit sampailah kami di Dam kali Kuning. Material Merapi memenuhi bibir Dam sehingga ada air yang mengalir melewati bagian atas. Aliran kali yang lebih besar telah dibuatkan jalur khusus ke bagian gorong-gorong di badan Dam. Perjalanan berlanjut menuju Kepuharjo, desa yang habis diterjang wedhus gembel gunung Merapi. Sempat terpikir apakah akses kesana ditutup karena banjir lahar dingin beberapa hari lalu diberitakan telah mengklaim wilayah yang cukup luas sepanjang aliran kali Opak. Gerbang retribusi kami lewati tanpa ada penjaga yang menagih karcis masuk. Semakin keatas terlihat matahari mulai menebarkan sinarnya di lereng Merapi, ah tepat rupanya perkiraan saya tadi. Pada tanjakan yang landai terlihat ada semacam gerbang buatan yang dijaga oleh orang-orang berseragam kuning. Laju motor saya perlambat dan rupanya ini adalah lokasi baru pemungutan retribusi bagi para wisatawan bencana. Saya diharuskan membayar Rp. 5000,- untuk tiket masuk dan Rp. 2000,- untuk parkir. Kepada petugas pemungut retribusi yang tampaknya warga sekitar saya sempat bertanya apakah nanti ada pungutan lain diatas? Beliau menjawab tidak karena semuanya sudah disepakati untuk dikelola bersama.

Melewati pos retribusi suasana mulai terlihat gersang, batang-batang pohon terbakar terhampar luas bersama material erupsi Merapi. Bangunan-bangunan nyaris tak tersisa jejaknya kecuali tembok rendah yang masih berdiri di dekat pondasi. Semakin keatas semakin sedikit jejak bangunan yang terlihat. Pengunjung masih sepi namun terlihat beberapa pedagang mulai mempersiapkan kiosnya menjajakan makanan ringan, souvenir berupa kaos, video CD dan barang lainnya. Sahabat berpetualang saya parker di lokasi yang memang sudah dipersiapkan khusus. Beberapa sepeda motor sudah ada disana. Setelah mengeluarkan kamera dan melihat kondisi sekitar saya beranjak kearah timur untuk mencari lokasi mengambil gambar yang kira-kira cocok. Duaratus meter dari tempat saya memarkirkan si hitam ada pita yang membentang sebagai tanda bahwa pengunjung tidak boleh melintas kesana. Akhirnya saya beralih kearah selatan yang terlihat sepi dari pengunjung.

Begitu melihat lokasi yang menarik saya mulai mencari posisi untuk mengambil gambar. Eksperimen pun dimulai. Berbagai gaya pengambilan gambar dicoba agar bisa menghasilkan gambar menyerupai fotografer tenar di internet. Setelah nungging sana-sini beberapa kali ternyata hasil maksimal yang saya peroleh masih jauh dari apa yang ada di internet. Dengan semangat terus mencoba saya mencari lokasi lain untuk mengasah kejelian mata melihat unsure-unsur yang menarik. Banyak gambar yang saya ambil, namun hati ini masih belum puas. Saat mencari-cari lokasi saya sempat berbincang dengan salah seorang warga yang sedang mencangkul lahannya. Ketika saya tanya beliau menjawab bahwa dia sedang menanami lahannya dengan bibit tanaman yang disumbangkan oleh beberapa instansi. Kami berbincang sebentar tentang keadaannya yang saat ini masih mengungsi di balai desa Umbulharjo karena belum mendapatkan shelter. Status tanahnya saat ini juga belum diketahui akan seperti apa nantinya, tapi untuk mempercepat pemulihan maka ditanamilah dengan bibit pohon tadi. Saya sempat bertanya tentang rumput pakan ternak yang sudah mulai tumbuh subur dilokasi padahal pohon-pohon besar belum banyak yang bertunas kembali. Beliau menjelaskan bahwa memang rumput-rumput tersebut sangat tahan dengan kondisi panas. Diceritakannya kepada saya bahwa ketika musim kemarau rumput-rumput tersebut mongering dan terlihat mati namun begitu ada hujan maka dia dapat tumbuh kembali dengan cepatnya. Disekitar lokasi saya juga melihat tanaman keladi yang sudah mulai tumbuh kembali secara bergerombol. Tampaknya umbi keladi yang ada di dalam tanah mendapatkan perlindungan yang cukup dari material panas Merapi. Saya kemudian meminta diri kepada bapak itu untuk melanjutkan misi mengambil gambar dari beberapa lokasi lagi. Berjalan kearah bukit kecil di tepi kali Opak, saya melewati jalan desa yang aspalnya tertutup timbunan tebal material Merapi. Bekas-bekas penutupan akses jalan saat status awas tampak masih melintang di persimpangan. Masuk ke lahan yang banyak batang kayu rebah dapat dipastikan bahwa bukit ini sebelumnya adalah kebun yang rimbun. Berjalan kearah tebing terlihat jelas aliran baru kali Opak yang semakin ke Selatan semakin lebar dan menagih kembali alur-alurnya yang sempat dihuni manusia. Setelah beberapa saat mengambil gambar ada nuansa aneh yang saya rasakan. Angin yang bertiup cukup kencang menelusup masuk ke dalam relung-relung bilah bambu menyanyikan alunan sendu tentang kisah yang baru saja berlalu. Cukup lama saya terhipnotis dengan suara tersebut, seakan sedang mendengarkan kisah tentang suatu pemusnahan yang memang harus dilakukan untuk memberikan tempat bagi kehidupan yang baru. Rumput-rumput kecil dan tunas bambu seakan membenarkan apa yang saya rasakan. Tidak lama angin berangsur melemah dan perhatian saja menuju ke tunas-tunas bambu di tebing kali. Perlahan-lahan saya turun. Sekilas masih tercium aroma belerang dari material di badan kali Opak. Setelah mengambil beberapa gambar saya putuskan untuk kembali keatas karena rupanya sebatang wafer coklat tidak cukup padat untuk menghambat laju kembang kempis di usus saya.

Beranjak perlahan ke atas bukit terlihat bekas jalan dari batu granit yang tertutup batang-batang pohon dan bambu. Tiba dipuncak ternyata ada pengunjung lain yang datang dengan motor. Maksud hati ingin menawarkan senyum ramah tapi karena tidak diperhatikan akhirnya saya abaikan. Ternyata semakin banyak pengunjung yang datang jadi saya beranjak menuju kios yang ada untuk mencari makanan yang cukup buat mengisi bagian-bagian perut yang mulai keroncongan. Tiba di salah satu kios yang menjual jadah tempae dan tahu bacem saya menanyakan harga jualnya. Ibu pemilik kios menyampaikan harga satu paket jadah tempe adalah sepuluh ribu rupiah. Lalu saya menanyakan harga tahu bacem dan dijawab seribu lima ratus rupiah satu potongnya. Akhirnya saya minta dibungkuskan dua potong tahu bacem. Saat itu ibu penjual tahu menanyakan “Pake cabe ngga?” Langsung saya jawab “Iya.” Lalu sambil bercanda si ibu menyahut “Cabenya seperti saya lho, besar-besar.” Walaupun sempat telmi akhirnya saya menangkap maksud ibu tersebut. Tapi lho kenapa cabenya cuma satu bu, oalah ternyata candaan tadi maksudnya satu cabe untuk dua tahu. Karena tahu harga cabe masih tinggi saya tidak protes dan berlalu sambil mengucapkan terima kasih. Pengunjung semakin ramai dan lahan parkir pun mulai penuh. Saya memutuskan untuk duduk di reruntuhan tembok di salah satu sisi jalan sambil menikmati tahu bacem yang super manis. Sambil merasakan perpaduan tahu dan cabe di dalam mulut saya melihat bermacam-macam sekali pengunjung yang datang, mulai anak-anak hingga manula, orang biasa, relawan, pejabat, pengusaha dan entah apa lagi status mereka. Rupanya banyak orang yang ingin tahu dengan mata kepala sendiri bagaimana kedahsyatan alam ketika bergejolak. Semoga ada bisikan yang menyusup ke sanubari masing-masing bahwa walaupun kadang-kadang gejolak alam sungguh ganas tetapi dia tetaplah sahabat yang harus kita hargai keberadaannya dalam mendukung kehidupan manusia. Sahabat hitam saya starter dan perlahan-lahan kami meniti jalan pulang yang berdebu. Jalan pulang sudah diatur agar melewati jalur lain sehingga memudahkan lalu lintas di jalan yang sempit. Rumput di tepi jalan yang hijau dan warga yang membersihkan bekas rumahnya menunjukkan bahwa kehidupan baru sudah dimulai. Sampai jumpa Cangkringan, cepatlah hijau kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: