Oleh: hardybreck | 24 November 2009

Jawaban Masa Lalu dan Pertanyaan Masa Kini

Kita, manusia-manusia masa kini yang terbelenggu oleh kebenaran-kebenaran masa lalu. Lemah tak berdaya dalam jaring-jaring hukum warisan para pendahulu. Berontak dan melawan hanya akan memanen sindir dan cemooh dari isi kepala yang sama dalam jasmani yang baru. Lari dan sembunyi hanya merupakan suatu bentuk pengingkaran terhadap kata hati. Selamanya tidak akan lebih baik dibandingkan tunduk dan menjalankannya dengan dada yang lapang.

Pilihan mana yang kau ambil tidak akan menurunkan nilaimu di mataku. Kita hanya jiwa-jiwa bebas yang belum tahu bagaimana cara terbaik untuk menghadapinya. Mencari-cari ke segala penjuru hanya untuk tersesat dan kembali dalam sumpah serapah yang tak ada gunanya. Mengutuki kekalahan yang diperoleh tanpa ada kemampuan untuk melawan. Menyesali anugerah yang diberikanNya lewat bentuk kehidupan saat ini.

Pengandaian akan kehidupan yang lain hanya merupakan cara kita untuk melarikan diri dari tanggungjawab. Tanggungjawab untuk menyesuaikan kebenaran-kebenaran masa lalu dengan bentuk kehidupan masa kini. Mengungkapkan pemikiran yang bebas namun tetap hormat pada jiwa-jiwa masa lalu. Mengharmoniskan keduanya dalam detik-detik waktu saat ini. Hingga kita mampu berharap munculnya kemenangan bagi jiwa-jiwa masa lalu dan masa kini. Saat hukum warisan para pendahulu bukan lagi kekang untuk mengikat, melainkan tonggak untuk menopang. Siapkah kita?

Iklan

Responses

  1. Kita? Elu kali… setidaknya begitulah salah satu ungkapan yang paling kejam yang pernah saya dengar…

    Entah kejam, entah tidak, terlalu banyak hal yang tidak dijelaskan ketika kita mencoba menalarnya…, namun ada beberapa hal mungkin baru bisa disentuh ketika nalar mulai ditanggalkan…

    • Berarti dibutuhkan kebijaksanaan dalam menggunakan nalar itu sendiri :D.

      • Kadang ga bernalar lebih baik đŸ™‚

        Terlalu banyak peduli bikin kita malah tidak tahu apa yang mesti dilakukan…

        • Wah betul juga itu, opini yang menarik :D.

  2. Itulah utopia. dalam hidup bernegara pun ada utopia. apa itu utopia. seorang penyair italia bilang, “utopia adalah jika engkau berjalan satu langkah, dia (utopia) akan selangkah didepanmu. jika engkau berjalan berpuluh2 langkah, maka ia (utopia) akan berjarak berpuluh2 langkah juga didepanmu. utopia tidak akan kamu capai. lalu apa pentingnya utopia? ia berguna agar engkau selalu melangkah. dan terus melangkah.”

    supremasi hukum dan keadilan bernegara pun termasuk utopia…

    • Saat ini kemana kita akan melangkah teman?

    • Uthopia? bukankah hal ini yang diajarkan oleh setiap agama? We all live in Uthopia. Untuk apa mengejar sesuatu yang tidak pasti.

      • Setidaknya mengejar lebih baik daripada menunggu dalam ketidak pastian he hee…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: