Oleh: hardybreck | 15 Juli 2009

Jangan MELENG Saat Berkendara

Judul tulisan ini hanyalah sebuah ajakan bagi pembaca yang budiman, bukan sebuah perintah apalagi peraturan karena tak ada sedikitpun hak padaku untuk memberikannya kepada para pembaca yang budiman. Ajakan ini bukanlah sesuatu yang baru, apalagi bagi kita yang biasa menggunakan sarana transportasi baik dua kaki, roda dua, roda tiga, roda empat, roda enam, roda duabelas, roda dua plus empat kaki dan lain-lain. Walaupun bukan hal yang baru, namun kedekatannya dengan keseharian justru membuat kita sering mengacuhkannya. Jangankan mengacuhkan, berkendara dengan penuh konsentrasi pun terkadang tetap menjadikan kita korban keacuhan pengguna jalan yang lain. Keacuhan yang lebih banyak berasal dari tidak adanya keinginan untuk memahami bahasa-bahasa jalan raya.

Tidak kurang dari setengah pengguna jalan hanya tahu bagaimana mengoperasikan kendaraannya agar sampai di tujuan tanpa mengindahkan bahasa-bahasa simbol yang ada di sepanjang jalan ataupun di kendaraan lain sesama pencari tujuan. Lain kali saja saya tuliskan, agar tidak terlalu jauh melenceng dari judul diatas. Sekali lagi meleng ketika berkendara lebih banyak dikarenakan oleh adanya obyek ‘menarik’ yang mengundang hasrat manusia untuk menikmatinya baik nyata di atas jalan ataupun maya di dalam pikiran. Selain itu kebingungan juga salah satu pemicu yang mengajak orang untuk meleng di jalan. Kebingungan pengendara di jalanan seringkali terjadi pada orang yang baru pertama kali datang ke suatu tempat atau pada pengendara lain yang pikirannya dipenuhi berbagai konflik yang juga indikator bahwa dia memang hidup adanya. Beralih pada obyek ‘menarik’, bisa kita pilah-pilah mulai dari pemandangan alam, berbagai produk hasil olah pikir otak manusia, hingga makhluk ciptaan-Nya yang memang menarik. Lalu ketika kita mengalami satu insiden di jalan raya karena tergoda oleh hal-hal ‘menarik’ ini haruskah umpatan dan sumpah serapah yang keluar?  Memang benar adanya ketika kita tergoda untuk melihat sesuatu yang menarik merupakan salah satu cara manusia yang terbatas untuk mengagumi hasil karya-Nya yang tidak terbatas, baik yang hadir lewat tangan manusia ataupun campur tangan-Nya sendiri. Dengan mengagumi hal menarik tersebut tentu saja kita menjadi yakin akan keberadaan-Nya. Namun efek lanjutan dari kekaguman diatas jalan raya yang tidak menyenangkan bukanlah alasan untuk menyalahkan-Nya karena menyediakan berbagai hal yang menarik di dunia. Tidak ada salahnya mengagumi, tapi jangan dilakukan pada tempat dan situasi yang tidak tepat jika tidak ingin berakhir di permukaan jalan, pojok trotoar, bemper mobil ataupun selokan dipinggir jalan. Melihat situasi dibelakang kita lewat spion saat berkendara saja terkadang beresiko karena bahasa jalan raya yang dipahami oleh setiap pengguna berbeda-beda, apalagi meleng dengan perhatian tidak terarah ke depan dan juga belakang. Kembali kepada umpatan dan sumpah serapah yang keluar ketika mendapati hasil perbuatan melengnya tidak semenarik apa yang dilihat sebelumnya, ada baiknya dipikirkan kembali. Kembali lagi bukan maksud hati menggurui, tidak ada hak saya untuk itu, namun senyuman lebih memudahkan penyelesaian masalah ketika hasil meleng kita ternyata melibatkan orang lain. Di sisi lain rasa syukur mungkin akan meringankan gejolak dada ketika hasil perbuatan meleng kita nikmati sendiri, sekaligus menyadarkan diri bahwa pengalaman yang didapat lebih awal membuat kita semakin waspada karena ada juga banyak keadaan dimana tak ada lagi pengalaman setelah meleng itu tadi. Fokuslah ketika berkendara karena bahasa pengguna jalan di negeri ini masih tidak sepemahaman.

Ditulis setelah dua hari berturut-turut melihat pengguna jalan lain mengalami insiden kecil di jalan raya karena meleng. Teringat pengalaman hampir mencium bemper mobil ketika meleng menikmati sore yang cerah sehabis hujan.

Iklan

Responses

  1. Aq ga meleng bro. Aq cuma setel MP3 pake speaker in-ear dalam volume kenceng hehehe. naek motornya pake tangan satu pula 😀

    meleng klo liat cewk sih sering. apalagi klo mbonceng km hehe 😀

  2. Sebenernya itu jg g boleh menurut peraturan, tp blom ngeliat contoh kasusnya he hee…
    Wah diperalat nich rupanya aku :D.

  3. Weh punya In-Ear to mbul? Boleh pinjem tuh…

    yang kayak gini bukan?

    http://www.apple.com/ipod/inearheadphones/
    http://www.headphone.com/products/headphones/in-ear-monitor/
    http://www.shure.com/ProAudio/Products/PersonalMonitorSystems/us_pro_earphones_content


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: