Oleh: hardybreck | 21 Juni 2009

Balada Debat Calon Presiden

Dua hari yang lalu perhatian sebagian besar Rakyat Indonesia pasti tertuju pada acara Debat Kandidat Presiden Republik Indonesia Periode 2009/2014. Mengusung nama Debat menyebabkan acara ini mengundang rasa ingin tahu dari dari semua warga negara yang peduli terhadap kelanjutan kepemimpinan di negeri ini. Mereka yang sudah menetapkan pilihan (kebanyakan merupakan simpatisan dari kandidat yang maju), akan menetapkan pilihan (pemilih yang belum yakin kepada kandidat mana hatinya tertambat) dan yang sudah menetapkan pilihan untuk tidak memilih (golongan yang merasa tidak ada kandidat yang memenuhi kriteria sebagai pemimpin sesuai standarnya masing-masing) menanti akan seperti apakah acara debat putaran pertama ini. Bayangan penonton kebanyakan tentunya tertuju pada argumen-argumen yang kemungkinan dilontarkan untuk mengkritik dan menyudutkan kinerja (saya memilih kata ini karena ketiga kandidat sudah pernah dan sedang menjabat sebagai pasangan pemimpin bangsa, entah apa kata yang tepat biarlah itu dikoreksi oleh mereka yang berkecimpung dalam ilmu sosial politik-jika berkenan tentunya he hee…) dari para kandidat seperti yang selama ini terjadi dalam kampanye terbuka di berbagai tempat ataupun kampanye di media.

Sesi pertama adalah penyampaian visi misi kandidat terhadap masalah tata kelola pemerintahan yang bersih dan efisien (kalau tidak salah seperti itu, jika keliru silahkan dikoreksi seperti yang anda lihat di televisi 😀). Setiap kandidat menyampaikan visi misinya sesuai batas waktu yaitu sepuluh menit,. Sungguh bukan merupakan alokasi yang pendek sehingga bisa terlihat ada kandidat yang membutuhkan ‘contekan’ agar jawabannya terstruktur dan yang tidak ‘nyontek’ pun paparannya lumayan melenceng dari masalah yang diberikan moderator. Penonton di seluruh penjuru Indonesia pun bisa memaklumi jika dalam pemaparan visi dan misi ini belum akan terjadi debat seperti nama besar acaranya. Kandidat Satu, Dua dan Tiga selesai menyampaikan visi misi mengenai topik yang diberikan. Acara dilanjutkan dengan sesi kedua setelah info komersial yang berisi iklan kampanye ketiga kandidat serta iklan produk alas kaki dan minuman penambah stamina (Kedua produk ini pasti punya banyak uang untuk membayar biaya iklan pada waktu Prime time – Kata Eka teman nonton waktu itu). Pada sesi ini para kandidat diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang permasalahan yang belum terselesaikan dan diminta memberikan jawaban sesuai batas waktu. Pertanyaan diberikan secara bergiliran dan tidak ada tanda-tanda akan terjadi debat karena belum terjadi interaksi antar kandidat. Alhasil sesi kedua selesai tanpa gairah, kecuali sedikit selingan dari kandidat yang memang sudah diketahui begitu adanya. Setelah selingan yang sama seperti pada info komersial sebelumnya, acara dilanjutkan ke sesi tiga yang dijanjikan moderator akan seru karena para kandidat ‘diijinkan’ berinteraksi menanggapi jawaban dari kandidat yang mendapat pertanyaan dari moderator. Pertanyaan demi pertanyaan diberikan kepada masing-masing kandidat dan jawaban serta tanggapan yang diberikan tidak satupun menimbulkan perdebatan seperti yang dijanjikan oleh nama acara ini. Setiap kandidat hanya ‘merasa’ perlu  melengkapi jawaban dari kandidat yang diberi pertanyaan tanpa sedikit pun berusaha menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap jawaban yang diberikan. Menanggapi pertanyaan menyangkut persoalan yang sudah lama belum mencapai solusi memuaskan para kandidat menunjukkan sikap saling mendukung karena ketiganya pernah bekerjasama dalam pemerintahan yang sama. Sungguh suatu etika yang menunjukkan budaya dari Bangsa Timur, jauh berbeda dengan kondisi waktu kampanye yang saling kritik, saling serang dan saling menyudutkan antar kandidat dan tim suksesnya. Setelah menikmati ‘Debat’ versi Bangsa Timur acara dilanjutkan ke sesi terakhir yaitu penutupan oleh masing-masing kandidat yang sudah tentu menyelipkan permohonan dukungan sebelum bertarung di Pemilihan Presiden Juli besok. Setelah para kandidat selesai menyampaikan kalimat penutup moderator mempersilahkan mereka kembali ke tempat masing-masing. Entah ada skenario atau tidak salah satu kandidat memulai berjabat tangan dengan kandidat yang lain. Sempat terbersit dalam pikiran apakah dua kandidat yang punya catatan masa lalu kurang baik akan berjabatan tangan, dan ternyata mereka lakukan walaupun minim ekspresi kekeluargaan seperti nilai luhur yang dijunjung oleh bangsa timur. Terakhir giliran MC dan moderator yang menutup acara ‘Debat’ hebat ini.

Itu saja? Ya itu saja. Berakhirlah sudah acara debat ‘pesanan’ versi panitia pemilu yang diberi nama keren komisi. Tentu semua pemirsa yang mengikuti acara dari awal hingga akhir bertanya-tanya apakah kata debat sudah mengalami pergeseran makna karena panitia pemilu yang bernama komisi itu menginginkan acara ini berlangsung sesuai dengan etika bangsa Timur? Lalu apakah bukan kesan ‘munafik’ yang timbul karena sebelum acara debat ini masing-masing kubu saling serang tentang kekurangan masing-masing, begitu juga setelah acara debat tiap kubu memulai lagi skenario saling kritik yang bisa diakses lewat berbagai media. Kemana perginya maksud komisi yang ingin menyampaikan etika berpolitik ala bangsa timur kepada para kandidat beserta tim suksesnya? Kita semua dipaksa lagi menyaksikan reality show yang tidak real, yah karena memang begitulah politik adanya. Entah para kandidat yang cuma ‘jago kandang’ seperti yang dikatakan oleh pembawa acara berita di salah satu televisi swasta atau karena selama ini ‘aktor intelektual’ dibalik perang kritik adalah para tim sukses yang tidak ikut berperan dalam acara debat. Ah dugaan ini hanya datang dari orang yang awam politik, tapi jika menilik alasan lain bahwa konsep debat disetel seperti itu untuk meminimalisir timbulnya konflik antar pendukung kandidat di tempat acara berlangsung ataupun nanti setelah acara berlangsung maka tentu ada juga yang salah dengan para pendukung yang ditempa oleh etika bangsa Timur yang sangat luhur itu. Sebenarnya seperti apakah seharusnya berpolitik yang sesuai dengan etika bangsa timur itu? Apakah bersikap baik dihadapan semua pesaing sehingga terlihat sebagai negarawan yang elegan namun dengan menggebu-gebu menyerang pesaing yang sama didepan pendukungnya sendiri agar terlihat bagaikan seorang pemimpin yang gagah berani. Ah entahlah, namun bagi saya kita hanya menggunakan tameng sebagai bangsa timur untuk menutupi segala keburukan yang ada dalam kehidupan politik, dan mungkin juga dalam bidang yang lain.

Setelah acara ditutup oleh MC maka ada persembahan terakhir dari Sang Legenda Hidup bangsa ini. Iwan Fals muncul membawakan lagu Bangunlah Putra Putri Pertiwi, dari keseluruhan acara debat hanya bagian inilah yang memberikan suatu kepuasan akan bagaimana seharusnya bangsa ini bertindak. Bukan dalam visi misi, bukan juga dalam pertanyaan yang jawabannya datar-datar saja, tetapi lewat lirik lagu sederhana dengan makna yang dalam serta penjiwaan yang menggetarkan dada oleh seorang Iwan Fals.

“Terbanglah garudaku, Singkirkan kutu-kutu di sayapmu oh…..

Berkibarlah benderaku, Singkirkan benalu di tiangmu

Jangan ragu dan jangan malu, Tunjukkan pada dunia

Bahwa sebenarnya kita mampu”

Iklan

Responses

  1. Ho oh bro. Aq yo kuciwo. Ah payah. Ga seseru capres pilihan di RCTI yang hostnya Rosiana Silalahi itu. tapi mungkin debat cawapres ama debat capres putaran kedua minggu ini bakal lebih seru. Mungkin..

    Yang lumayan tengil ya pak JK itu hahaha. masak dia bilang, ” Bu mega sudah pernah menjadi org no 1 di negeri ini. Pak SBY pun meneruskan tahta Bu Mega. saya harap, saya bisa meneruskan tahta pak SBY.

    Huahahaha. tengil tenan. dia njaluk jatah ki hahahaha. Pak Kumis itu lumayan lucu. dia kudu dimasukkin ke kabinet walopun misalnya ga gol jadi presiden 😀

    • Ya kita tunggu debat gelombang kedua, mudah-mudahan masih pengen nonton ha ha haa…

  2. haha. debat cawapres juga sama-sama ga serunya. yg tampil lumayan cuma wiranto, yg laen tampil ga sebagaimana yg diharapkan..

    • Yah diacara debatnya gitu, tp pas kampanye hajar-menghajar lg he he hee….
      Tp kyknya aq setuju dengan anjuran dari Prabowo dan Wiranto tentang perkawinan beda suku :D.

  3. aq ya setuju. org yg aq arepin ngga. sayangnya.. 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: