Oleh: hardybreck | 23 Februari 2011

Petualangan Singkat Di Gunung Api Purba Nglanggeran

Puncak Pelangi

Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar Obyek Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran? Tentu akan banyak pertanyaan yang muncul dari pertanyaan diawal tadi. Bisa saja dimulai dari “Apakah ada tempat seperti itu?”, “Dimana tempatnya?”, “Seperti apa keadaannya?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang membawa saya hari Sabtu tanggal 19 Februari 2011 memenuhi ajakan teman untuk berkunjung ke lokasi tersebut. Sebenarnya sudah lama saya saya membaca informasi tentang obyek wisata ini, tetapi baru kemarin menyempatkan diri datang langsung ke lokasi. Kami berangkat dari Jogja bersebelas, 8 turis lokal dan 3 warga negara Australia. Pukul 6.45 WIB kami berangkat dari daerah Ringroad Utara. Sebenarnya kami belum tahu lokasi persisnya tetapi dari informasi yang kami dapat obyek wisata ini berada di Kecamatan Patuk. Informasi ini kami rasa cukup karena nanti tinggal bertanya saja dimana lokasi persisnya. Perjalanan menuju bukit Patuk berlangsung lebih kurang 30 menit dan tepat di tikungan tajam terakhir sebelum sampai puncak ada poster besar untuk promosi dan petunjuk arah. Karena kurang awas petunjuk arah itu terlewatkan begitu saja, namun saat tiba di puncak ada papan penunjuk arah kecil tepat di pertigaan sebelah utara pos polisi patuk. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju lokasi. Jalan yang kami lalui cukup bagus, kecuali mendekati pendopo kalisong tempat retribusi masuk obyek wisata ini. Kata temanku obyek wisata ini dikelola secara swadaya jadi memang fasilitasnya masih terbatas. Setelah memarkirkan kendaraan kami membayar retribusi masuk sebesar Rp. 2.000,- per orangnya ditambah Rp. 1.000,- untuk parkir motor. Bagi yang membawa mobil tarif parkirnya Rp. 5.000 untuk mobil kecil dan Rp. 10.000,- untuk mobil besar. Selesai urusan retribusi kami langsung naik karena waktu menunjukkan hampir pukul 8.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hardybreck | 13 Januari 2011

Catatan Kecil dari Cangkringan

Pukul 05.20 pagi alunan lagu To be with you-nya mr. Big terdengar dari alarm di telepon genggam saya. Badan yang masih malas bangun mendelegasikan tangan kanan untuk mematikan alarm yang kian lama kian kencang teriakannya. Pagi ini saya berencana ke lokasi erupsi Merapi di wilayah Cangkringan. Setelah melawan rasa malas yang menjerat badan saya membuka korden dan melihat di utara sana puncak Merapi tertutup masih awan. Sebenarnya keadaan seperti itu menurunkan mood saya untuk berangkat kesana, tetapi sehari sebelumnya cuaca hampir sama dan beranjak siang malah cerah. Sedikit berjudi akhirnya saya mempersiapkan diri untuk berangkat. Setelah sedikit membersihkan diri saya membuat kopi susu panas untuk mengisi perut dipagi yang cukup dingin ini. Sebatang wafer coklat jadi teman menyesap kopi susu yang nikmat. Setelah mempersiapkan perlengkapan tempur, motor kesayangan dipanaskan beberapa saat sebelum diajak melintas lagi di jalan yang pertengahan tahun kemarin pernah dijelajahi. Mesin berangsur panas, dan inilah kami pasangan petualang yang haus jarak mulai berjalan pelan menuju kaki Merapi.

 

Baca Lanjutannya…

Oleh: hardybreck | 4 Januari 2011

Kegilaan

Keberadaan lahir

Ketika kita jatuh cinta pada ketiadaan.

– Rumi –

 

Oleh: hardybreck | 26 Mei 2010

Mempertanyakan Seruan Merdeka

Situmbhu Kepper

Merdeka, apa yang ada dipikiran anda ketika mendengar kata tersebut? Hingga saat ini kata merdeka sering kita dengarkan ketika ada demonstrasi, kampanye ataupun rapat partai politik dan kegiatan konsentrasi massa lainnya yang berhubungan dengan kepentingan hidup warga negara. Kata ini sering diteriakkan untuk menggugah semangat orang-orang yang hadir dalam kegiatan tersebut. Jika menilik sejarah maka akan kita lihat bagaimana kata yang didengungkan semenjak negara bangsa ini dijajah telah mampu menggelorakan semangat perlawanan yang berujung pada pencapaian kemerdekaan Indonesia. Setiap akan memulai rapat, dalam berpidato, ataupun saat mengakhiri pertemuan, kakek nenek kita selalu meneriakkan kata merdeka. Keadaan tersebut mengakibatkan timbulnya satu energi emosional yang kuat. Energi yang mampu menembus batas-batas individual dan identitas lain yang dimilikinya seperti suku, budaya dan bahkan keyakinan. Satu kata yang bermuara pada satu tujuan yang sama sehingga setiap individu merasa punya tanggung jawab untuk mewujudkannya dan pada akhirnya saling menyemangati untuk mencapai tujuan tersebut. Hingga akhirnya pencapaian tujuan tersebut melahirkan kita sebagai bangsa Indonesia yang dapat menikmati udara kebebasan sebagai manusia yang bermartabat.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hardybreck | 2 April 2010

Candi Barong

Pagi di Candi Barong

Candi Barong Dikala Pagi

Berada di tempat ini bagai merasakan apa yang ingin disampaikan lewat lagu “Simponi Yang Indah” yang kini dibawakan oleh Once. Kicau burung diselilingi kokok ayam hutan mampu menghadirkan suasana asri dan damai walau dikejauhan terdengar sayup-sayup desah motor, pesawat dan alarm pintu rel kereta. Sungguh suasana ini membawa diri tersekat jauh dengan peradaban. Cuaca yang sejuk, langit yang indah oleh kumpulan awan cirrus diatas kepala dan cumulonimbus dikejauhan memanjakan mata dari kenyataan peradaban yang dibuat-buat. Angin sepoi-sepoi mengantarkan belaian kasih dari ibu pertiwi pada anak manusia yang sudah melupakannya. Sinar mentari turut serta menghangatkan pagi yang cerah ini.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hardybreck | 24 November 2009

Jawaban Masa Lalu dan Pertanyaan Masa Kini

Kita, manusia-manusia masa kini yang terbelenggu oleh kebenaran-kebenaran masa lalu. Lemah tak berdaya dalam jaring-jaring hukum warisan para pendahulu. Berontak dan melawan hanya akan memanen sindir dan cemooh dari isi kepala yang sama dalam jasmani yang baru. Lari dan sembunyi hanya merupakan suatu bentuk pengingkaran terhadap kata hati. Selamanya tidak akan lebih baik dibandingkan tunduk dan menjalankannya dengan dada yang lapang.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hardybreck | 9 November 2009

Kuingin Garuda Kembali Perkasa

Memisahkan benci pada orang

Memisahkan benci pada sistem

Alangkah Susah

Apakah orang telah jadi sistem

Apakah sistem telah jadi orang

Membedakannya payah

Aku tak bisa benci pada orang

Tapi sistem mesti dibongkar ulang

Betapa lelah

Taufik Ismail, 1998

Puisi diatas berjudul ‘Alangkah Betapa’, dan sepertinya ditulis taufik Ismail ketika batinnya bergolak menghadapi gelombang perubahan yang kita kenal dengan Reformasi. Satu Dasawarsa lebih setelah puisi ini ditulis, kita (kata ini saya pakai karena sebagian besar anak bangsa ini memang merasakannya) menghadapi situasi yang bisa dikatakan serupa. Hampir sebagian besar rakyat di negara ini menginginkan adanya perubahan besar pada institusi penegak hukum yang ada di negeri ini. Kita semua sudah tahu bahwa berita media masa belakangan ini dipenuhi oleh konflik antara dua institusi yang diberi istilah beken dengan menggunakan nama dari dunia reptil. Entah apa tanggapan dari para binatang pemilik nama seandainya mereka punya organisasi massa yang bisa melakukan protes di jalanan, bisa-bisa kita semua yang merasa perlu terlibat dalam situasi sekarang ini memilih diam di rumah karena takut ataupun jijik kepada demonstran yang mengamuk di jalanan. Pun konflik yang menyeret nama dua keluarga reptil tersebut melambung jauh meninggalkan heboh Tokek (keluarga reptil lainnya) yang mampu memberikan efek langsung berupa jutaan rupiah tunai bagi mereka yang meniagakannya. Tentu saja hal ini bergantung pada mekanisme pasar yang ada.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hardybreck | 2 November 2009

Tak Ada Inspirasi

Sudah lama aku tidak menulis di blog ini, jika tidak salah hampir 3 bulan berlalu tanpaada sesuatu yang ditinggalkan sebagai catatan kerja otak. Tak ada inspirasi jadi alasan yang mudah untuk mengelak, namun dalam buku-buku pembangkit semangat sering dikatakan bahwa jika kita menanti inspirasi maka takkan ada yang dihasilkan. Sebaliknya kerja keras dan usaha selalu akan membuat anda terinspirasi. Sudah lama kata-kata itu aku baca, namun rasa malas selalu lebih kuat dari kemauan yang tak seberapa.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hardybreck | 5 Agustus 2009

Mbah Surip, Seniman Konsisten yang ‘Inkosisten’

Hari ini sebuah kabar duka kembali datang dari dunia hiburan tanah air. Mbah Surip yang kondang lewat lagu ‘Tak Gendong’ berpulang kepada Sang Pemilik Kehidupan. Mendengar lagu yang diciptakan dan sekaligus dinyanyikan oleh Si Mbah mau tak mau kita pun ikut berdendang mengikuti nada-nada sederhana dan lirik-lirik yang kadang menggelitik namun merupakan kenyataan sehari-hari semisal dalam lagu bangun tidur. Selanjutnya saya tidak akan membahas tentang lagu-lagu Mbah Surip yang fenomenal, tetapi lebih ingin menyorot pilihan hidup yang beliau jalani hingga akhir hayatnya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hardybreck | 31 Juli 2009

Efek Samping Merdeka

Aku bodoh, aku bodoh, aku bodoh…..

Kamu pintar, kamu pintar, kamu pintar…..

Entah karena pintarmu aku aku bodoh Atau karena bodohku kamu pintar

Tapi yang pasti tak ada diantara kita yang peduli pada orang lain

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori